Skip to main content

LiStory #001

Langsung posting LiStory #001!

Hehehe. 

Mari kita upload draft yang udah lama numpung di laptop. 

***

Groceries shopping adalah salah satu kegiatan favorit kami—maksudnya aku.

Seperti bapak-bapak pada umumnya, suamiku tidak terlalu suka menunggu aku belanja. Tapi setidaknya dia masih mau ikut memilih barang, atau lebih tepatnya, mencoba mempengaruhi keputusan yang ujung-ujungnya tetap aku yang ambil.

Hari ini, setelah mungkin sebulan tidak belanja, kami pergi ke supermarket dekat rumah. Setelah mengitari bagian buah dan sayur, kami masuk ke area protein. Aku buru-buru ke bagian ikan dan sengaja mengabaikan section daging, meskipun dia sudah mengode-ngode.

Tidak. Tidak dulu.

Masih dalam rangka program menurunkan kolesterolnya yang hampir 300 itu, aku memutuskan kami makan ikan.

Aku mengambil ikan bawal putih yang belum pernah aku masak sebelumnya. Tapi kelihatannya gampang. Aku pernah makan di restoran dan rasanya enak.

Ketika hampir menyerahkan ikan itu untuk ditimbang, aku melihat harganya.

98 ribu per kilo.

Aku menarik kembali ikan itu dan mengembalikannya ke tumpukan es.

In this economy, sepertinya nanti dulu ya bund… Kita belum sekaya itu untuk konsumsi ikan hampir seratus ribu yang belum tentu aku bisa masak.

Huh… Aku menghela napas.

Sebenarnya kami bukan tipe orang yang pelit untuk urusan makan. Budget makan kami berdua mungkin setara budget keluarga beranak empat.

Tapi mengingat kecenderunganku yang suka malas lupa memasak bahan makanan yang sudah dibeli sampai akhirnya membusuk di kulkas, aku juga harus mempertimbangkan apakah aku siap patah hati kalau penyakit malas lupa itu membuat ikan hampir seratus ribu sekilo membusuk begitu saja.

Akhirnya, aku mengambil ikan kuwe yang sebenarnya hampir sembilan puluh ribu untuk aku jadikan calon makanan sia-sia di dalam kulkas. Setidaknya ikan kuwenya nggak semahal bawal putih.

Aku dan suamiku saling nyengir. Walaupun sebenarnya...ya nggak terlalu beda juga.

Kemudian kami lanjut ke bagian ayam. Ayam adalah protein favoritku. Ayam tidak pernah salah, tidak pernah membosankan dan tidak pernah mengkhianati. Hanya aku yang sering mengkhianatinya seperti aku kepada ikan.

Sebenarnya aku tidak terlalu ingin beli ayam karena kami juga masih punya stok ayam di kulkas, sepertinya. Tapi kami tetap membelinya karena ayam adalah ayam.

Lima belas menit berikutnya habis untuk berdebat ayam mana yang harus dibeli.

Aku ingin ayam kampung. Dia ingin ayam pejantan.

Pada akhirnya, seperti semua keputusan rumah tangga lainnya… yang menentukan tetap aku.

Satu kilo ayam broiler, potong 10.

Masuk keranjang.

Setelah selesai, aku cepat-cepat menuju kasir sebelum dia menemukannya. Tapi terlambat. Dia sudah berdiri di depan rak ikan asin dan menatapku penuh harap.

Haduuh... Aku menghela napas lagi.

Tapi ya sudah. Setidaknya masih ikan.

Sementara dia memilih ikan asin, aku memilih telur omega untuk ditimbang.

"Bu, mohon tambahkan lagi ikan asinnya ya supaya bisa ditimbang."

Akal-akalan supermarket. Beli ikan asin sedikit nggak bisa ditimbang. Aku menghela napas lagi dan menyerahkan plastik itu ke suamiku agar dia menambahkannya. Setelah itu aku menaruh ikan asin jambal roti dan telur yang sudah lolos dari timbangan ke keranjang. Suamiku masih antre di tempat penimbangan ikan asin bulu ayam. Di depannya ada pasangan lansia yang sedang serius membahas telur mana yang paling sehat dan paling murah. Sepertinya dia akan antre lama.

Saat itulah aku sadar. Aku menaruhnya keranjang pasangan lansia itu. Buru-buru aku mengambil telur dan mengembalikannya ke keranjang kami.

Dua jam berkeliling supermarket ternyata lebih melelahkan daripada pilates dua jam. Begitu sampai rumah, aku langsung mengeluarkan satu per satu barang belanjaan. Protein aku taruh di wastafel untuk dicuci dan dibumbui. Atau yang sekarang disebut orang-orang: food prep.

Tapi tunggu.

Mana ikan asin jambal roti?

Apa jatuh?

Apa kasir lupa memasukkannya?

Kenapa cuma ada ikan asin bulu ayam?

Aku melihat struk. Tidak ada ikan asin jambal roti. Berarti tidak discan.

Berarti...

Ah.

Aku menepuk jidat.

Pasangan lansia di suatu tempat di Jakarta Selatan mungkin sedang kebingungan.

Kenapa tiba-tiba ada ikan asin jambal roti seharga hampir lima puluh ribu di keranjang mereka. Dan mungkin sedang berdebat:

"Mah, kita tadi ambil ini?"

"Nggak."

"Terus siapa?"

Aku.

***

L

 

Comments

Popular posts from this blog

Fearless, 2008

https://www.youtube.com/watch?v=ptSjNWnzpjg 23 April kini bukan lagi hari yang biasa bagiku. Bertemu denganmu, mengubah segala sesuatu tentang 23 April, menjadi sesuatu yang berharga, bagiku, bagimu. Well, jika kamu berekspektasi aku akan menuliskan kata-kata indah dalam tulisan ini, kamu harus merendahkan banyak ekpektasimu. Aku kehilangan kemampuan menulisku sejak lama. Bahkan, setiap kata yang tertulis menjadi semakin hari semakin buruk. LOL.  Tapi setidaknya, aku akan mencoba… Hehe. Pertemuan kembali denganmu dengan cara paling indah yang Tuhan berikan adalah hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Menjalin hubungan denganmu, dicintaimu dengan begitu banyak dan tulus, juga mengikuti penyebab aku takjub dengan cara Tuhan mempertemukan hamba-hambanya dalam cinta.  Dulu, duluu sekali ketika kita dimasa dimana orang menyebutnya muda dan belia, pernah saling tertarik. Sampai suatu waktu, kita berpisah karena sibuk memperjuangkan mimpi masing masing.  Kau ta...

#LiStory, #LISTerature and #LifeLISTed

Halooo. It is been a while yaah.  Terakhir nulis di sini tahun 2020. Waktu itu aku masih single dan sama sekali belum kepikiran 'suka' olahraga karena tuntutan umur.  Wow. Just... WOW. Agak mengkhawatirkan juga. Padahal dulu rasanya nulis itu kayak kebutuhan hidup. Sekarang malah jadi hobi yang ketimbun sama kerjaan, rebahan, overthinking, dan alasan-alasan lain yang kalau ditulis satu-satu bisa jadi satu postingan sendiri. Soo... Ini adalah sebuah project untuk mengembalikan semangat nulisku. Aku akan menghidupkan kembali blog ini dengan tiga tagline utama. And it is... *jengjengjeeng... #LiStory, #LISTerature and #LifeLISTed! Biar ada tekanan sosial dikit. Karena udah diumumin. 🤝 Mulai hari ini, blog ini akan dibagi jadi tiga kategori. #LiStories Isinya kejadian-kejadian yang entah kenapa selalu milih aku jadi pemeran utamanya. Biasanya receh. Kadang memalukan. Seringnya lucu kalau udah lewat. #LISTerature Kalau tiba-tiba aku sok puitis atau mendadak merasa jadi penulis. Ce...

Review Novel Time[s] by Aya Swords

Penulis: Aya Swords Penerbit: Grasindo (2014) Sinopsis: Kelompok Pemberontakan terhadap Morgana Kompaniya yang mengatasnamakan diri sebagai MARS telah terbentuk. Seseorang bernama Vounder telah menyusun rencana pemberontakan ini sejak lama. Ia meninggalkan tiga buah petunjuk yang dibutuhkan dalam rencana pemberontakan itu dalam buku The Ways to Survive. Dengan berbagai cara, akhirnya buku itu jatuh ketangan Tatiana Hudgeson dan seorang Jupiter bernama Donald Hammer. Mereka berteleportasi menjelajah waktu untuk mengungkap semua rahasia. Tatiana mengetahui kenyataan bahwa hanya dirinyalah yang bisa memecahkan petunjuk-petunjuk tersebut. Gadis itu tak punya pilihan lain selain melakukan pencarian itu, dengan Donald Hammer yang selalu setia melindunginya. Pencarian itu berujung pada terungkapnya rahasia-rahasia yang mengejutkan dan menghadapkan Tatiana pada dua opsi: terus berjuang dengan mengabaikan keselamatannya, atau menyerah dan terus hidup dalam pengejaran seperti sebelumnya? ...