Jendela-jendala kereta itu kabur, berlalu dengan cepat. Diiringi suara derit gesekan rel kereta dan klakson yang berisik. Perlu beberapa menit hingga pandangan di depan mata hanyalah sulaman malam yang kelam, rerumputan hitam, dan suasana suram. Suasana semestinya tak sesunyi ini. Semestinya kita banyak bicara. Semestinya ada peluk, senyuman mungkin kecupan yang akan dikenang hingga bertahun kedepan. Bahkan semestinya ada tangisan, atau setidaknya suara lain selain suara jangkrik yang memekik pelan dikejauhan sana, atau napas pelan dari kita berdua. Tapi tidak ada. Sama sekali. Kau duduk tak jauh di samping kananku, memakai baju kotak-kotak yang sudah sangat kukenal. Aku tahu kau tidak begitu memiliki baju lain. Dan celana itu… begitu seringnya ketumpahan kopi setidaknya tiga kali dalam satu bulan. Warnanya sudah pudar, gara-garanya pun aku tahu, kau begitu sibuk dengan dirimu sendiri dan memperdulikan orang lain alih-alih pakaian yang kau jemur; kau selalu lupa mengangkatnya...
Where stories becomes a LIST.