Skip to main content

Musim dan Tetes Hujan


Jika aku bisa melabeli diri seseorang, akan kusebut dirimu pengacau. Musim memanas hingga minggu lalu, dan kau kemudian permisi hadir membawa percikan percikan air hujan yang seharusnya tidak ada saat ini. Aku suka panas. Dan aku ingin musim selamanya seperti itu.

Aku mendengar tetesan-tetesan hujan yang kau bawa itu sedari jauh. Sejujurnya, ketika orang-orang memakai baju tipis dan bikini, anak anak bermain bola dan pasir di tepi pantai atau kolam renang buatan, aku tidak menyangka kau akan hadir dan membuat mereka sedih. Aku sendiri tidak sedih, aku hanya tidak menyangka kau kembali pada saat ini.

Kau sampai di depan mataku sambil meringis, dan tertawa renyah, khasmu itu. Kau mengulurkan tanganmu yang basah, dan aku menatap bajumu yang kuyup dari atas sampai bawah. Sekali lagi, aku berpikir, kau seharusnya tidak berada disini sekarang. Orang-orang di tepi pantai itu melihatmu aneh, beberapa bahkan menunjuk-nunjuk ke arahmu dengan tawa mengejek. Aku telah memberitahumu, tapi senyummu malah justru bertambah lebar.

Dulu sekali, kau pernah datang pada saat musim semi sedang mekar-mekarnya. Memperkenalkan diri sebagai hujan, kau perlahan-lahan menawarkan diri untuk membasahiku. Aku menolak. Tidak terlalu berbeda seperti sekarang, aku berkata bahwa aku suka musim semi. Bunga-bunga membuatku tenang. Angin sejuk membuatku perlahan-lahan lenyap terbawa waktu. Aku katakan, aku ingin musim semi ini berlangsung selamanya. 

Tapi senyummu yang kadang membuatku ingin memukulmu karena begitu menjengkelkan itu semakin lebar. Hingga perlahan, kau menarikku dalam gerimis kecil-kecil yang masih kuingat aku tidak menyukainya.

"Tidak apa-apa."

Aku mengernyitkan dahi. Tidak tidak apa-apa. Aku tahu musimku bagaimanapun akan terpengaruh. Gerimis membuat kelopak bunga-bunga yang sedang dalam mekarnya rontok. Rumput-rumput akan layu merunduk karena air yang turun semakin banyak. Aku tidak suka perubahan ini, tapi tidak membencinya. 

Tapi entah bagaimana, aku mendapati diriku mengangguk. Dan kemudian, menyesal tak lama setelah itu.

Kau menarikku ke dalam hujan yang sama sekali bukan lagi gerimis. Tetes-tetes air langit itu makin lama makin banyak, makin sering. Hujan turun sebagaimana mereka menyebutnya deras. Aku takut. Aku menggigil. Orang-orang yang sedang berjalan menggunakan mantel tipis itu berlarian menghindar. Sebagaian mengutuk, yang lain menangis. 

Ini terlalu deras. Kata ku lirih.

Tapi kau hanya tersenyum. Namun dengan senyum yang berbeda dengan sebelumnya. Sebelum tak lama kemudian, kamu menghilang.

Saat itu, aku bertekad untuk tidak mau masuk ke dalam hujan lagi. Bagaimanapun itu, bagaimana kau bilang sejuknya, kecilnya, atau hanya sedikit saja. 

Sekarang, kau menawarkan tanganmu yang seperti biasa basah itu kepadaku. Aku menipiskan bibir, menggeleng kecil. Tidak seperti waktu itu, kau tidak lagi meringis, melainkan hanya tersenyum kecil. Matamu memancarkan sesuatu yang mengingatkanku pada musim semi yang lalu. Bajumu masih basah seperti biasa, namun sesuatu membuatmu seperti sendu. 

Kau tidak membujukku atau meraih tanganku seperti yang lalu. Menunggu, sambil terus menjulurkan tangan itu. Aku skeptis, namun entah bagaimana jariku tergerak untuk meraih tanganmu.

Lagi lagi, ada sesuatu yang membuat tubuhku menyukaimu.

Sambil terus tersenyum tipis, kau lagi-lagi membawaku ke dalam gerimis kecil dalam lingkaranmu. Air kali ini sejuk dan sedikit hangat. Dia tidak terlalu kencang, dan tidak melukaiku. Aku tidak mendapati tubuhku menggigil, atau demam. Orang-orang yang di dekat pantai sana masih riang, meskipun beberapa membereskan barangnya untuk berkemas. 

Aku menatapnya, kemudian tersenyum tepat di depannya, "Hari ini tanpa sengaja aku memakai dress terbaikku. Aku akan membencimu seumur hidup jika kau membuatnya rusak lagi dengan airmu."

"Tidak apa-apa." katamu pendek, sambil tetap tersenyum. 

Orang-orang di pantai itu semakin lama semakin mengutuk. Aku mendengarnya sayup-sayup dari jauh. Aku harap dalam waktu dekat, mereka bisa berdamai dengan hujan dan pantai ini. Atau jika tidak, mereka akan merutukiku yang basah kuyup dalam hujan di tengah musim panas ini. 

Namun apapun itu, aku mendapati diriku tidak peduli bagaimana. Asalkan aku tetap dalam hujan ini. 

Comments

Popular posts from this blog

Fearless, 2008

https://www.youtube.com/watch?v=ptSjNWnzpjg 23 April kini bukan lagi hari yang biasa bagiku. Bertemu denganmu, mengubah segala sesuatu tentang 23 April, menjadi sesuatu yang berharga, bagiku, bagimu. Well, jika kamu berekspektasi aku akan menuliskan kata-kata indah dalam tulisan ini, kamu harus merendahkan banyak ekpektasimu. Aku kehilangan kemampuan menulisku sejak lama. Bahkan, setiap kata yang tertulis menjadi semakin hari semakin buruk. LOL.  Tapi setidaknya, aku akan mencoba… Hehe. Pertemuan kembali denganmu dengan cara paling indah yang Tuhan berikan adalah hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Menjalin hubungan denganmu, dicintaimu dengan begitu banyak dan tulus, juga mengikuti penyebab aku takjub dengan cara Tuhan mempertemukan hamba-hambanya dalam cinta.  Dulu, duluu sekali ketika kita dimasa dimana orang menyebutnya muda dan belia, pernah saling tertarik. Sampai suatu waktu, kita berpisah karena sibuk memperjuangkan mimpi masing masing.  Kau ta...

#LiStory, #LISTerature and #LifeLISTed

Halooo. It is been a while yaah.  Terakhir nulis di sini tahun 2020. Waktu itu aku masih single dan sama sekali belum kepikiran 'suka' olahraga karena tuntutan umur.  Wow. Just... WOW. Agak mengkhawatirkan juga. Padahal dulu rasanya nulis itu kayak kebutuhan hidup. Sekarang malah jadi hobi yang ketimbun sama kerjaan, rebahan, overthinking, dan alasan-alasan lain yang kalau ditulis satu-satu bisa jadi satu postingan sendiri. Soo... Ini adalah sebuah project untuk mengembalikan semangat nulisku. Aku akan menghidupkan kembali blog ini dengan tiga tagline utama. And it is... *jengjengjeeng... #LiStory, #LISTerature and #LifeLISTed! Biar ada tekanan sosial dikit. Karena udah diumumin. 🤝 Mulai hari ini, blog ini akan dibagi jadi tiga kategori. #LiStories Isinya kejadian-kejadian yang entah kenapa selalu milih aku jadi pemeran utamanya. Biasanya receh. Kadang memalukan. Seringnya lucu kalau udah lewat. #LISTerature Kalau tiba-tiba aku sok puitis atau mendadak merasa jadi penulis. Ce...

Review Novel Time[s] by Aya Swords

Penulis: Aya Swords Penerbit: Grasindo (2014) Sinopsis: Kelompok Pemberontakan terhadap Morgana Kompaniya yang mengatasnamakan diri sebagai MARS telah terbentuk. Seseorang bernama Vounder telah menyusun rencana pemberontakan ini sejak lama. Ia meninggalkan tiga buah petunjuk yang dibutuhkan dalam rencana pemberontakan itu dalam buku The Ways to Survive. Dengan berbagai cara, akhirnya buku itu jatuh ketangan Tatiana Hudgeson dan seorang Jupiter bernama Donald Hammer. Mereka berteleportasi menjelajah waktu untuk mengungkap semua rahasia. Tatiana mengetahui kenyataan bahwa hanya dirinyalah yang bisa memecahkan petunjuk-petunjuk tersebut. Gadis itu tak punya pilihan lain selain melakukan pencarian itu, dengan Donald Hammer yang selalu setia melindunginya. Pencarian itu berujung pada terungkapnya rahasia-rahasia yang mengejutkan dan menghadapkan Tatiana pada dua opsi: terus berjuang dengan mengabaikan keselamatannya, atau menyerah dan terus hidup dalam pengejaran seperti sebelumnya? ...