Apa yang pertama kalian pikirkan tentang mimpi? Ah, mungkin
kata-kata itu sudah terlalu basi. Maka kuubah pertanyaanku, apa yang pertama
kalian pikirkan tentang tujuan hidup?
Selama ini, hampir bertahun-tahun yang lalu sejak aku duduk
di bangku SMP, aku selalu memikirkan satu tujuan hidup. Aku bahkan sudah
memetakan rencanaku ke depan; kuliah dimana, bidang apa dan jadi apa. namun
semua itu, mungkin karena terdesak oleh kepustasaan karena sempat gagal sana
sini, aku sudah membat keputusan salah.
Ah, tidak adil rasanya jika menyebut ini keputusan yang
salah. Pada dasarnya, semua keputusan itu benar, tergantung bagaimana cara kita
menerimanya. Dan jika kau membuat keputusan salah, maka sebenarnya yang salah
bukanlah keputusan itu, melainkan kau yang mengambil keputusan. Agak
berputar-putar, eh? Tapi itu intinya.
Keputusanku saat itu membuatku kini berada dalam keadaan
yang tidak aku bayangkan semuanya. Well, jika selama bertahun-tahun ini kau
mengharapkan duduk di major Public Relation, International Relationship atau
Environment Engineering, dan selama bertahun-tahun pula kau sudah mempersiapkan
itu semua, maka kau tidak akan pernah membayangkan atau sedetik pun berpikir
kalau kau akan duduk di major sastra kan? Apalagi bukan sastranya bukan salah
satu sastra bahasa terpopuler. Jepang.
Saat itulah aku merasa aku harus melupakan mimpi-mimpiku
yang dulu. Merasa bahwa ini adalah takdirku, dan apa yang harus kujalani
hanyalah menjalani kehidupan sebagai mahasiswi major sastra jepang dengan
sungguh-sungguh.
Hanya itu.
Namun, ternyata kepercayaan itu tidak bertahan lama.
Setelah ribuan kali kupikir, aku mungkin bisa tetap
memperjuangkan mimpi-mimpiku sejak kecil lewat sini. Aku bisa belajar bahasa
jepang hingga aku mampu melewati N3. Selanjutnya aku tinggal mendaftaar
beasiswa S1 ke Jepang dengan major sesuai dengan yang kuinginkan. Jika aku
lulus, bukan hanya aku bisa mendapatkan besiswa ke luar negeri gratis, tapi
juga aku bisa mendapatkan mimpiku kembali.
Lalu aku bekerja keras.
Selama ini aku mati-matian belajar. Begadang. Weekend hanya
belajar dan jika bosan pun hanya mendengar music klasik ala Beethoven atau
Chopin, atau listening percakapan bahasa Jepang. Bagiku, selama beberapa bulan
belakangan ini, waktu senggang yang terbuang percuma tanpa ilmu baru adalah suatu
kerugian.
Tapi kemudian, aku menyadari sesuatu yang salah.
Bukan karena aku jenuh karena telah bekerja keras sejak
dulu, tapi aku menyadari ada seusatu yang salah mengenai tujuan hidupku.
Aku telah memimpikan sesuatu yang besar, hingga aku belajar
mati-matian beberapa bulan ini untuk itu. tapi selama itu juga aku merasa
terlalu ambisius, sehingga aku merasa ini salah atau lebih tepatnya, tidak
tepat untukku.
Tuhan mewujudkan atau tidak mewujudkan mimpi seseorang pasti
ada alasannya. Begitu juga dengan berbagai hal yang terjadi di setiap detik
kita.
Tuhan tahu.Tapi kita tidak selalu paham.
Aku pun berpikir bahwa mimpiku ini telah membawaku terlalu
jauh dari tempat dimana seharusnya aku berada.
Tidak. Aku bukannya menyerah. Aku selalu bisa bekerja keras
jika aku sudah menentukan apa yang aku mau. Tapi ini berbeda.
Sebenarnya, bukan masalah dimana kita menuntut ilmu dan apa
bidang kita. Bukan masalah juga apabila kita tidak mendapatkan mimpi kita.
Aku percaya semua mimpi itu bernilai besar. Tapi besar itu
relative.
Jutaan umat muslim ingin pergi haji misalnya, tapi jutaan
muslim lainnya bisa melakukan itu dengan mudah setiap tahun.
Karena itu, sebenarnya bukan masalah seberapa tinggi atau
besarnya mimpi kita, tapi seberapa tepat mimpi kita. Jika kita selalu ingin
menjadi petani padi, tapi kita malah menjadi petani timun, apa bedanya? Toh
sama saja. Selalu akan ada hasil panenan yang kita dapat. Seperti juga ilmu, di
bidang manapun kau menuntut ilmu, baik di local atau di universitas terbaik di sisi
lain dunia sana, pasti selalu ada ilmu yang kita dapat. Entah itu adalah buah
berkualitas terbaik atau tidak, kita adalah petaninya, maka kita jugalah yang
menentukan. Bibit, pupuk dan tanah hanyalah factor pendukung.
Jadi untuk apa pergi jauh kesana?
Tidak sebentar waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan itu
semua. 5-10 tahun paling sebentar. Dan jika waktu selama itu kita bisa lakukan
hal lain selain hanya menuntut ilmu, maka lain pula ceritanya.
Menjadi guru atau dosen mungkin? Meskipun terlihat biasa
saja, namun, mulia manakah, bermimpi kuliah di luar negeri, atau menjadi guru
di dalam negeri?
Ironi sekali. Dulu aku yang menolak bermimpi menjadi guru
dan selalu memandang profesi itu dengan sebelah mata, kini aku justru merasa,
bahwa itulah mimpi yang tepat untukku.
Tidak. Aku tidak sedang meracuni pikiranmu. Aku hanya
mengutarakan pemikiranku saja. Salah sendiri jika kau akhirnya terpengaruh. Dan
aku tidak peduli kalau kalian bilang ini alay. Terserah. Ini hakku karena aku
punya akun disini. Jika kalian dongkol tulisan ini terlalu lebay, salahkan
dirimu sendiri kenapa tertarik untuk membaca tulisan ini.
Jadi kesimpulan dari tulisan panjang dan gak penting ini
adalah tentukan mimpi dan tujuan hidup kalian. Akan lebih baik jika kalian
memimpikan sesuatu yang sederhana, tapi berguna untuk orang lain. Dan kerja
keras, selalu iringi hal itu di setiap langkah kalian. Apapun mimpi kalian.
Intinya:
Bukan seberapa besar mimpi kalian, tapi seberapa tepat mimpi
kalian untuk kalian.
Rabu, 24 September 2014,
sekitar pukul setengah dua pagi.
Comments
Post a Comment